Kamis, 14 Mei 2015
Last Piece
Lagi asyik browsing tiba tiba ada teman yang mengabari bahwa Guest Star Closing SMANSA DAY 2015 adalah MOCCA. Waw, MOCCA is a band that I loved the most. Musik-musik mereka itu selalu bercerita.
Ada satu hal lagi yang membuatnya lebih spesial. Closing SMANSA DAY itu tanggal 17 Mei 2017, dan pernikahan saya itu tanggal 16 Mei 2015. Waw, kehadiran MOCCA di Closing SMANSA DAY menjadi salah satu kado pernikahan yang cool. ^^
Untuk calon istriku disana, perkenankan saya menyanyikan lagu ini.. ^^
MOCCA - Last Piece
There was a hole in my heart
It’s been there since the start
it was so empty and hollow
’til you came along
La la la la..You are the missing piece
La la la la..You are the missing piece
I was trapped in a maze
My mind was spinning around
I didn’t know how to solve this puzzle
and then you came along
La la la la..I guess you’re the last piece
La la la la..I guess you’re the last piece
I’m gonna lock my heart now
I am gonna lock my heart now
and throw away the key
La la la la..I guess you’re the last piece
La la la la..I guess you’re the last piece
La la la la..I guess you’re the last piece
La la la la..I guess you’re the last piece
Our Love Line
Waw, H-2.. Luar biasa.. ^^
And the Story still Goes on..........
Semoga ketika akad nanti sedang dalam keimanan terbaik. Aamiin..
Hmm.. Sesungguhnya ini hanya untuk memenuhi postingan blog saja sii. Hhe..
Copy paste seutuhnya dari isi web pernikahan saya (fathimahluthfi.com) tentang proses pertemuan Saya dan Calon Istri..
Bismillah..
Gejala awal dari barakahnya sebuah pernikahan adalah kejujuran ruh, terjaganya proses dalam bingkai syariat, dan memudahkan diri. -SAF-
January 28
Berawal Dari...
Luthfi: Tiba-tiba ada WA dari Ica, "Mas Upay, jangan galau! Mau dikenalin sama temen Ica ga?". Nah, semua berawal dari kalimat tanya itu. Ternyata, 'Dia' yang mau Ica kenalkan ke saya, sungguh, saya ga tau siapa dia dan belum pernah ketemu sama sekali. Tapi entah, Allah menggerakkan hati saya untuk bilang, "Silahkan".
Fathimah: Ica (terketuk untuk) ngontak via LINE, "Faaa aku mau ngomong sesuatuuu hihi. Fafa lulus ini apakah ada niat untuk menjalani hubungan yang selayaknya menjadi kewajiban setiap umat Muslim? Tsah haha. Hmmm ada yang mau kenal sama Fafa, teman Ica, tapi mau serius gitu...". Masya Allah. Siapa diaaa?
January 29
Terpanggil
Fathimah: Rasanya hati ini semacam digerakkan oleh Allah, kemudian jemari dengan gemetar mantap mengetik, "Aku terpanggil nih Ca, kalau serius beliau langsung hubungi Abi aja...". Sebuah keputusan besar. Haphaphap bismillah..
Luthfi: Malam, Ica nge-WA saya, katanya 'Dia' terpanggil. Saya langsung deg-degan, ga percaya. Mama, ya Mama langsung saya ajak berbicara mengenai hal ini. Bismillah, bismillah, bismillah..
January 31
Pesan
Luthfi: Setelah menunaikan Shalat Zuhur di Masjid Agung Sukabumi, saya memberanikan diri menguhubungi Abi dari 'Dia' yang saya belum pernah temui sebelumnya. Meminta izin untuk memulai sebuah proses Ta'aruf. Niat dan Ketika..
Fathimah: Tik tok tik tok baru kali ini lho 1 hari berasa seabad *halah. Tepat pukul 2 siang pesan itu datang ke hp Abi, pesan yang ditunggu. Cuma bisa bilang alhamdulillah *kemudian air mata yang bicara* :")
February 1
The First Day We Met
Fathimah: Siang itu hujan deraaasss sekali, langit seperti tau cara untuk menambah rasa degdegan di hati :'D Pertemuan pertama yang ga diduga (olehnya). Sebelumnya berdoa yang terbaik untuk kedepannya. Semoga jadi awal yang baik. Allah, ridhailah..
Luthfi: Ini pertemuan pertama. Bersyukur, benar-benar bersyukur, diberikan kesempatan untuk bertemu dengannya dan juga keluarganya yang sungguh luar biasa. Hmmm.. Ini salah satu Rahasia Allah dalam mempertemukan hamba-hamba-Nya. Alhamdulillah..
Fathimah: Siang itu hujan deraaasss sekali, langit seperti tau cara untuk menambah rasa degdegan di hati :'D Pertemuan pertama yang ga diduga (olehnya). Sebelumnya berdoa yang terbaik untuk kedepannya. Semoga jadi awal yang baik. Allah, ridhailah..
Luthfi: Ini pertemuan pertama. Bersyukur, benar-benar bersyukur, diberikan kesempatan untuk bertemu dengannya dan juga keluarganya yang sungguh luar biasa. Hmmm.. Ini salah satu Rahasia Allah dalam mempertemukan hamba-hamba-Nya. Alhamdulillah..
February 8
The Next Meeting
Luthfi: Pertemuan ini penuh tawa canda. Di akhir, diberitahukan, kedua Murabbi kami sudah memberikan lampu hijau, orang tua dari 'Dia' pun sudah OKE. Selanjutnya, saya dan keluarga yang harus bergerak. Mari memantapkan hati, meluruskan niat..
Fathimah: Pertemuan yang menyenangkan, sambutan yang hangat, ah seperti berada di tengah-tengah keluarga sendiri :') Oiya, ini momen ketemu pertama sama (calon) keluarga. Ditemani juga sama Hasan sebagai Mahram. Semakin tenang dan yakin, insya Allah.
Luthfi: Pertemuan ini penuh tawa canda. Di akhir, diberitahukan, kedua Murabbi kami sudah memberikan lampu hijau, orang tua dari 'Dia' pun sudah OKE. Selanjutnya, saya dan keluarga yang harus bergerak. Mari memantapkan hati, meluruskan niat..
Fathimah: Pertemuan yang menyenangkan, sambutan yang hangat, ah seperti berada di tengah-tengah keluarga sendiri :') Oiya, ini momen ketemu pertama sama (calon) keluarga. Ditemani juga sama Hasan sebagai Mahram. Semakin tenang dan yakin, insya Allah.
February 14
Khitbah
Fathimah: Khitbah ----- Awalnya cuma dikabarin mau silaturrahim. Ketika silaturrahim berujung khitbah aku merasaaa bersyukur dan terharu. Maka doa-doa terus melangit untuk kelancaran dan keberkahan sampai hari H akad nikah..
Luthfi: Awalnya hanya bersilaturrahim. Tapi siapa sangka endingnya menjadi khitbah. Ya, itu Doa. Doa itu, pergi membawa harap dan kembali membawa karunia. Mari berdoa..
Fathimah: Khitbah ----- Awalnya cuma dikabarin mau silaturrahim. Ketika silaturrahim berujung khitbah aku merasaaa bersyukur dan terharu. Maka doa-doa terus melangit untuk kelancaran dan keberkahan sampai hari H akad nikah..
Luthfi: Awalnya hanya bersilaturrahim. Tapi siapa sangka endingnya menjadi khitbah. Ya, itu Doa. Doa itu, pergi membawa harap dan kembali membawa karunia. Mari berdoa..
March 21
Silaturrahim Antar Keluarga
Luthfi: Waw. Alhamdulillah, silaturrahim dua keluarga besar. Jadi lebih mengenal satu sama lain. Semoga 'Dia' yang disana berkenan dengan saya dan keluarga. Allah, berkahilah.. :)
Fathimah: Setelah khitbah kemarin rasanya kurang afdhal kalau belum ngariung sekeluarga besar. Alhamdulillah hari ini terlaksana silaturrahim dua keluarga besar. Sampai jumpa 16 Mei, insya Allah :)
Luthfi: Waw. Alhamdulillah, silaturrahim dua keluarga besar. Jadi lebih mengenal satu sama lain. Semoga 'Dia' yang disana berkenan dengan saya dan keluarga. Allah, berkahilah.. :)
Fathimah: Setelah khitbah kemarin rasanya kurang afdhal kalau belum ngariung sekeluarga besar. Alhamdulillah hari ini terlaksana silaturrahim dua keluarga besar. Sampai jumpa 16 Mei, insya Allah :)
Semoga berkah semoga berkah semoga berkah.. Aamiin..
Senin, 27 April 2015
My Wedding Site.. :)
Entah cuma ingin share aja Website pernikahan saya..
Semakin deg-degan.. 19 Hari lagi..
Bismillah..
Kindly visit:
fathimahluthfi.com
Selasa, 24 Maret 2015
Romantisme Itu
#Romantisme itu...
Ketika malam tinggal sepertiga, seorang istri terbangun. Ia berwudhu, menunaikan shalat dua rakaat. Lalu membangunkan suaminya. "Sayang bangun, saatnya shalat." Maka mereka berdua pun tenggelam dalam khusyu' shalat dan munajat.
#Romantisme itu...
Ketika seorang istri mengatakan "Sebentar lagi adzan, Sayang." Lalu sang suami melangkah ke masjid, menunaikan tahiyatul masjid. Tak ketinggalan ia menunaikan dua rakaat fajar. Maka ia pun menjadi pemenang dan itu lebih baik dari dunia dan seisinya.
#Romantisme itu...
Ketika suami berangkat kerja, sang istri menciumnya sambil berbisik mesra, "Hati-hati di jalan, baik-baik di tempat kerja sayang, kami lebih sipa menahan lapar daripada mendapatkan nafkah yang tidak halal."
#Romantisme itu...
Ketika suami istri terpisah jarak, tetapi keduanya saling mendoakan di waktu dhuha, "Ya Allah, jagalah cinta kami, jadikanlah pasangan hidup dan buah hati kami penyejuk mata dan penyejuk hati, tetapkanlah hati kami dalam keimanan, teguhkanlah kaki kami di jalan kebenaran dan perjuangan, ringankanlah jiwa kami untuk berkorban, maka mudahkanlah perjuangan dan pengorbanan itu dengan rezeki halal dan berkah dariMu."
#Romantisme itu...
Ketika suami sibuk kerja, saat istirahat ia sempat menghubungi istrinya. Mungkin satu waktu dengan menghadirkan suara. Mungkin hari lainnya dengan WA dan SMS cinta. "Apapun makanan di rumah makan, tak pernah bisa mengalahkan masakanmu." Lalu sang istri pun membalasnya, "Masakanku tak pernah senikmat ketika engkau duduk di sebelahku."
#Romantisme itu...
Ketika menjelang jam pulang kerja, sang suami sangat rindu untuk segera pulang ke rumah dan bertemu istrinya. pada saat yang sama, sang istri merindukan belahan jiwanya.
Note:
Lima hari yang lalu saya mendapatkan pesan singkat melalui aplikasi whatsapp. Isi pesannya sungguh membuat saya terenyuh. Tulisan di atas lah isi pesannya. Entah ini tulisan siapa, saya hanya menuliskannya kembali. Semoga bermanfaat.
Terima kasih teruntuk Ummi yang sudah mengirimnya sebagai bekal untuk saya..
Ketika malam tinggal sepertiga, seorang istri terbangun. Ia berwudhu, menunaikan shalat dua rakaat. Lalu membangunkan suaminya. "Sayang bangun, saatnya shalat." Maka mereka berdua pun tenggelam dalam khusyu' shalat dan munajat.
#Romantisme itu...
Ketika seorang istri mengatakan "Sebentar lagi adzan, Sayang." Lalu sang suami melangkah ke masjid, menunaikan tahiyatul masjid. Tak ketinggalan ia menunaikan dua rakaat fajar. Maka ia pun menjadi pemenang dan itu lebih baik dari dunia dan seisinya.
#Romantisme itu...
Ketika suami berangkat kerja, sang istri menciumnya sambil berbisik mesra, "Hati-hati di jalan, baik-baik di tempat kerja sayang, kami lebih sipa menahan lapar daripada mendapatkan nafkah yang tidak halal."
#Romantisme itu...
Ketika suami istri terpisah jarak, tetapi keduanya saling mendoakan di waktu dhuha, "Ya Allah, jagalah cinta kami, jadikanlah pasangan hidup dan buah hati kami penyejuk mata dan penyejuk hati, tetapkanlah hati kami dalam keimanan, teguhkanlah kaki kami di jalan kebenaran dan perjuangan, ringankanlah jiwa kami untuk berkorban, maka mudahkanlah perjuangan dan pengorbanan itu dengan rezeki halal dan berkah dariMu."
#Romantisme itu...
Ketika suami sibuk kerja, saat istirahat ia sempat menghubungi istrinya. Mungkin satu waktu dengan menghadirkan suara. Mungkin hari lainnya dengan WA dan SMS cinta. "Apapun makanan di rumah makan, tak pernah bisa mengalahkan masakanmu." Lalu sang istri pun membalasnya, "Masakanku tak pernah senikmat ketika engkau duduk di sebelahku."
#Romantisme itu...
Ketika menjelang jam pulang kerja, sang suami sangat rindu untuk segera pulang ke rumah dan bertemu istrinya. pada saat yang sama, sang istri merindukan belahan jiwanya.
Note:
Lima hari yang lalu saya mendapatkan pesan singkat melalui aplikasi whatsapp. Isi pesannya sungguh membuat saya terenyuh. Tulisan di atas lah isi pesannya. Entah ini tulisan siapa, saya hanya menuliskannya kembali. Semoga bermanfaat.
Terima kasih teruntuk Ummi yang sudah mengirimnya sebagai bekal untuk saya..
Sabtu, 28 Februari 2015
Ikatan yang Kuat
Ikatan apa yang kuat?
Ikatan Persahabatan.
Saya rasa setiap kita memiliki inner circle-nya masing-masing. Dan sungguh, jika memang manusia normal, rasanya tak mungkin ada orang yang sanggup hidup seorang diri. Karena apa? Ada kebaikan-kebaikan yang harusnya menjadi jamak.
Sahabat levelnya lebih tinggi dari teman, setidaknya menurut saya. Karena persahabatan muncul melalui proses. Bukan hanya buah dari persamaan, namun juga perbedaan. Klisenya, sahabat selalu ada dalam suka maupun duka. "Selalu ada dalam suka maupun duka" ini memang mencakup semuanya. Ah kalian pasti lebih faham mengenai hal ini daripada saya.
Mari kita tengok satu bait sajak dari Tere Liye tentang sahabat.
Lalu, Ikatan apa yang lebih kuat dari ikatan persahabatan?
Ikatan Ukhuwah,
Saya Perjelas: Ikatan Persahabatan yang dilandasi dengan ukhuwah (atas dasar iman)
Islam menjadikan persaudaraan dalam iman sebagai dasarnya. Sebuah keniscayaan bahwa ukhuwah islamiyah akan melahirkan rasa kesatuan dan menenangkan hati manusia. Dalam mencapai kenikmatan ukhuwah ini, setidaknya ada lima proses dalam pembentukannya, dimulai dari ta'aruf (saling mengenal), tafahum (saling memahami), ta'awun (saling menolong), takaful (saling menanggung), dan itsar (mendahulukan orang lain atas diri sendiri).
Kita bisa bertanya pada Musa tentang makna persahabatan yang dilandasi dengan ukhuwah. Tentu dia memiliki seindah-indah jawaban. Setidaknya dari permohonannya kepada Allah, kita tahu bahwa Musa meminta kepada Allah agar Harun dijadikan penguat di sisinya, atas berbagai kelemahan yang dimilkinya. Ya, mengemban risalah dengan kesulitan-kesulitan diri seperti seorang Musa membuat sahabat menjadi hajat yang mendesak.
Yupz, dalam dekapan ukuwah, kita bersaudara karena iman. Karena iman. Karena iman. Dengannya kita mengambil cinta dari langit, lalu menebarkannya di bumi.
Ustadz Salim A. Fillah ini memang selalu menginspirasi. Saya belajar mengenai ukhuwah dari buku beliau, "Dalam Dekapan Ukhuwah". Semoga pahala senantiasa mengalir untuk beliau.
Lalu, Ikatan apa yang lebih kuat dari ikatan ukhuwah?
Ikatan Pernikahan
Saya perjelas: Ikatan Pernikahan yang disana kita bersahabat berdasarkan ukhuwah
Setelah suatu saat nanti saya mengucapkan akad nikah, setelah menikmati detik demi detik penuh doa dalam walimah. Sesungguhnya nanti itu saya sudah mengambil dari diri saya sendiri sebuah perjanjian yang berat. Al-Qur'an menyebutnya miitsaqan ghaliizhaa, frasa yang muncul hanya tiga kali dalam Al-Qur'an. Kurang berat apa, dua miitsaqan ghaliizhaa yang lain adalah perjanjian besar Allah dengan Bani Israil sampai-sampai Ia mengangkat gunung Thursina ke atas mereka, dan juga perjanjian agung antara Allah dan Rasul-rasul-Nya.
Mengenai hal ini saya belum bisa berbicara banyak. Ya kan belum menikah. Hhe.. Hanya bisa mereka-mereka. Tapi saya yakin, ketika sebuah pernikahan yang didalamnya kedua pasangannya memulai persahabatan lalu mendasarkan semuanya atas nama Allah pastilah ikatan pernikahan itu akan dijadikan kuat, sekuat-kuatnya. Insya Allah, Amiin.
Saya berazzam, untuk menuju ke arah sana (sebuah pernikahan), tentunya saya harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Saaangaaat mempersiapkan. Harapannya saya bisa menjadi keberkahan untuk istri saya nantinya, begitu pula sebaliknya. Jangan sampai lah yaa saya bukannya menjadi berkah, malah jadi musibah. Na'udzubillah..
Jadi ingat ayat ini..
Saya berharap saya bisa membangun cinta dan menjaga cinta dengan istri saya nantinya atas landasan takwa. Saya mencintai karena Allah dan dicintai karena Allah semata. Karena cinta memang harus dikembalikan kepada fitrahnya yang suci. Yaitu cinta yang dibangun atas landasan iman dan takwa. Cinta seperti ini yang insya Allah akan saya bawa ke akhirat kelak. Amiin..
foot note:
1. Tulisan ini opini pribadi atas pengetahuan pribadi yang diturunkan dari pengetahun orang lain. afwan jika memang ada yang salah.
2. Waktunya semakin dekat.
Ikatan Persahabatan.
Saya rasa setiap kita memiliki inner circle-nya masing-masing. Dan sungguh, jika memang manusia normal, rasanya tak mungkin ada orang yang sanggup hidup seorang diri. Karena apa? Ada kebaikan-kebaikan yang harusnya menjadi jamak.
Sahabat levelnya lebih tinggi dari teman, setidaknya menurut saya. Karena persahabatan muncul melalui proses. Bukan hanya buah dari persamaan, namun juga perbedaan. Klisenya, sahabat selalu ada dalam suka maupun duka. "Selalu ada dalam suka maupun duka" ini memang mencakup semuanya. Ah kalian pasti lebih faham mengenai hal ini daripada saya.
Mari kita tengok satu bait sajak dari Tere Liye tentang sahabat.
Sahabat baik seperti belajar naik sepedaDan alhamdulillah-nya, saya memiliki sahabat-sahabat baik.. ^^
Walaupun lama tak bersua,
Jarak dan waktu memisahkan,
Saat bertemu kembali, tetap sama
Mungkin sedikit kaku di awalnya, tapi sama menyenangkan
Lalu, Ikatan apa yang lebih kuat dari ikatan persahabatan?
Ikatan Ukhuwah,
Saya Perjelas: Ikatan Persahabatan yang dilandasi dengan ukhuwah (atas dasar iman)
Islam menjadikan persaudaraan dalam iman sebagai dasarnya. Sebuah keniscayaan bahwa ukhuwah islamiyah akan melahirkan rasa kesatuan dan menenangkan hati manusia. Dalam mencapai kenikmatan ukhuwah ini, setidaknya ada lima proses dalam pembentukannya, dimulai dari ta'aruf (saling mengenal), tafahum (saling memahami), ta'awun (saling menolong), takaful (saling menanggung), dan itsar (mendahulukan orang lain atas diri sendiri).
Kita bisa bertanya pada Musa tentang makna persahabatan yang dilandasi dengan ukhuwah. Tentu dia memiliki seindah-indah jawaban. Setidaknya dari permohonannya kepada Allah, kita tahu bahwa Musa meminta kepada Allah agar Harun dijadikan penguat di sisinya, atas berbagai kelemahan yang dimilkinya. Ya, mengemban risalah dengan kesulitan-kesulitan diri seperti seorang Musa membuat sahabat menjadi hajat yang mendesak.
"Dan Allah mempersatukan hati para hamba beriman. Jikapun kau nafkahkan perbendaharaan bumi seluruhnya untuk mengikat hati mereka, takkan bisa kau himpunkan hati mereka. Tetapi Allah-lah yang telah menyatupadukan mereka..." (Q.s. Al-Anfaal [8]: 63)Kalau kata Sayyid Quthb, "Aqidah ini memang ajaib! Ketika telah meresap dalam hati, ia akan menjadikan hati itu dipenuhi rasa cinta dan kasih sayang sesamanya. Yang keras beralih jadi lunak, yang liar menjadi jinak. Ia-ia berjalin kelindan di antara sesamnaya dengan jalinan yang kokoh, dalam, dan empuk."
Yupz, dalam dekapan ukuwah, kita bersaudara karena iman. Karena iman. Karena iman. Dengannya kita mengambil cinta dari langit, lalu menebarkannya di bumi.
Ustadz Salim A. Fillah ini memang selalu menginspirasi. Saya belajar mengenai ukhuwah dari buku beliau, "Dalam Dekapan Ukhuwah". Semoga pahala senantiasa mengalir untuk beliau.
Lalu, Ikatan apa yang lebih kuat dari ikatan ukhuwah?
Ikatan Pernikahan
Saya perjelas: Ikatan Pernikahan yang disana kita bersahabat berdasarkan ukhuwah
Setelah suatu saat nanti saya mengucapkan akad nikah, setelah menikmati detik demi detik penuh doa dalam walimah. Sesungguhnya nanti itu saya sudah mengambil dari diri saya sendiri sebuah perjanjian yang berat. Al-Qur'an menyebutnya miitsaqan ghaliizhaa, frasa yang muncul hanya tiga kali dalam Al-Qur'an. Kurang berat apa, dua miitsaqan ghaliizhaa yang lain adalah perjanjian besar Allah dengan Bani Israil sampai-sampai Ia mengangkat gunung Thursina ke atas mereka, dan juga perjanjian agung antara Allah dan Rasul-rasul-Nya.
Mengenai hal ini saya belum bisa berbicara banyak. Ya kan belum menikah. Hhe.. Hanya bisa mereka-mereka. Tapi saya yakin, ketika sebuah pernikahan yang didalamnya kedua pasangannya memulai persahabatan lalu mendasarkan semuanya atas nama Allah pastilah ikatan pernikahan itu akan dijadikan kuat, sekuat-kuatnya. Insya Allah, Amiin.
Saya berazzam, untuk menuju ke arah sana (sebuah pernikahan), tentunya saya harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Saaangaaat mempersiapkan. Harapannya saya bisa menjadi keberkahan untuk istri saya nantinya, begitu pula sebaliknya. Jangan sampai lah yaa saya bukannya menjadi berkah, malah jadi musibah. Na'udzubillah..
Jadi ingat ayat ini..
"Teman-teman akrab (yang berkasih-kasihan) pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa." (Q.s. Az-Zukhruf [43]: 67)Dari ayat ini yang saya bisa serap adalah bahwa banyak orang yang di dunia ini saling mencintai, dan berkasih-kasihan, kelak di akhirat mereka justru saling bermusuhan. Kecuali orang yang membangun cintanya atas landasan takwa karena Allah Swt.
Saya berharap saya bisa membangun cinta dan menjaga cinta dengan istri saya nantinya atas landasan takwa. Saya mencintai karena Allah dan dicintai karena Allah semata. Karena cinta memang harus dikembalikan kepada fitrahnya yang suci. Yaitu cinta yang dibangun atas landasan iman dan takwa. Cinta seperti ini yang insya Allah akan saya bawa ke akhirat kelak. Amiin..
foot note:
1. Tulisan ini opini pribadi atas pengetahuan pribadi yang diturunkan dari pengetahun orang lain. afwan jika memang ada yang salah.
2. Waktunya semakin dekat.
Sabtu, 31 Januari 2015
Teruntuk Dirimu
Tulisan ini ditulis dalam deru degup yang kencang..
Di tengah keharuan yang membentuk harapan..
Maafkan hamba ya Allah, karena terlalu terlarut dalam perasaan..
Ada sekitar tujuh miliar penduduk bumi saat ini. Jika separuh saja dari mereka pernah jatuh cinta, setidaknya akan ada satu miliar lebih cerita cinta. Akan ada setidaknya 5 kali dalam setiap detik, 300 kali dalam semenit, 18.000 kali dalam setiap jam, dan nyaris setengah juta sehari-semalam, seseorang entah di belahan dunia mana, berbinar, harap-harap cemas. gemetar, malu-malu menyatakan perasaannya.
Paragraf sebelumnya saya ambil dari salah satu buku Tere-Liye, "Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah".
Ya, boleh jadi satu dari antara satu miliar lebih cerita tersebut merupakan cerita saya. Bisa saja cerita yang lalu, atau cerita yang sedang dijalani saat ini. Terasa atau tidak terasa, saya yakinkan, pastilah saya berada pada sebuah alur cerita yang besar, yang di dalamnya terdapat beberapa cerita yang berkumpul menjadi sebuah cerita. Dan cerita memang selalu bercerita bukankah?
Saya akui, dalam masa-masa yang lalu, saya mungkin telah melakukan kebodohan dengan mengatas namakan cinta. Sok sok menjadi orang yang benar, tanpa tahu sebetulnya itu salah. Atau sesungguhnya saya tahu itu salah, tapi menafikan diri dari kebenaran. Atau jatuh kembali di lubang yang sama setelah tahu itu salah, dan itu lebih buruknya.
Beruntungnya saya, memiliki lingkaran kecil yang senantiasa mengingatkan. Selalu memberitahu kebenaran dengan caranya. Dan saya belajar bahwa kebodohan-kebodohan yang terjadi di masa lalu, itulah yang membentuk saya yang sekarang ini. Dan masa lalu ini saya anggap sebagai sejarah, baik atau buruknya, utuh. Seperti kata Ust. Felix Siauw, "Sejarah memberikan kepada seseorang lebih dari sekedar informasi, ia menyusun cara berfikir seseorang saat ini dan menentukan langkah apa yang akan dia ambil pada masa yang akan datang."
Dari sini, saya belajar untuk memantaskan diri, memantapkan hati.
Jatuh cinta itu tidak salah, semuanya tergantung niat. Saya pun mulai mengangguk, menemukan korelasi kenapa Hadits Arba'in nomer satu itu mengenai niat.
Kata Ust. Fauzil 'Adhim, awalnya memang dari niat. Karena memang Allah selalu mengintai niat yang terbersit untuk dijadikan pertanyaan pertanggungjawaban. Juga karena Allah meletakkan karunia balasan pada niat yang diteguhkan.
Tentang menikah, ini pun sangat memerlukan niatan. Niatan yang mengandung unsur fitrah, fiqhiyah, dakwah, tarbiyah, sosial, dan budaya.
Sekali lagi, awalnya memang dari niat. Bayangkan.. Niat ketika kita berazzam untuk bersegera merenda sebuah kebersamaan suci dalam naungan ridha Ilahi. Niat ketika menetapkan kriteria-kriteria. Niat ketika kita memulai sebuah proses yang bersih, tanpa interaksi yang mubadzir dan merusak hati (khawatir dengan kebodohan yang terulang). Niat ketika menghilangkan kecenderungan dan menyerahkan semuanya kepada Allah. Niat ketika dipertemukan. Niat dan niat, ketika dan ketika.
Yang saya fahami momen pernikahan adalah sebuah momen yang besar. Bagi saya sebagai seorang laki-laki, artinya saya akan bertambah amanah, dari tanggung jawab atas diri saya sendiri menjadi tanggung jawab terhadap sebuah keluarga. Yang teramat dahsyat sebenarnya ada di pihak wanita. Bayangkan dia yang sedari kecil sampai besar diasuh dan dididik dengan baik oleh kedua orang tuanya. Lalu, ketika dia dipersunting oleh seorang pria, ada yang harus lebih dia hormati dan taati dari orang-orang yang mengasuhnya. Siapa? Betul, suaminya. Dalam konteks ini, mungkin saya, suatu saat nanti. Hal ini yang menjadi sebuah pertanyaan yang seharusnya mengokohkan niat. Seberapa besar kesiapan saya sebagai laki-laki, menerima limpahan perwalian seorang perempuan dari ayahnya? It's a Big Waw..
Lalu visi pun terpikirkan. Saya jadi teringat tulisan Ust. Anis Matta dalam "Serial Cinta"-nya.. Saya copas seutuhnya..
Dari sini pun, saya belajar untuk memantaskan diri, memantapkan hati.
Namun saya akui, saya masih terlalu jauh dari kata Shaleh untuk memulai sebuah proses Ta'aruf.
Tapi ya Allah, izinkan saya memulainya.
Jika memang sudah waktunya, tolong mudahkanlah, jika memang belum, berilah kelapangan hati untuk saya agar senantiasa terus memperbaiki diri.
Ya, ini doa. Doa itu.. Pergi dengan harapan, kembali lagi dengan ridha dan karunia..
Bismillah..
Teruntuk dirimu,
yang bila aku menujumu, selalu ingatkanku untuk berpaling pada Allah lewat matamu,
bertanyalah tentang kabar ibadahku
Di tengah keharuan yang membentuk harapan..
Maafkan hamba ya Allah, karena terlalu terlarut dalam perasaan..
Ada sekitar tujuh miliar penduduk bumi saat ini. Jika separuh saja dari mereka pernah jatuh cinta, setidaknya akan ada satu miliar lebih cerita cinta. Akan ada setidaknya 5 kali dalam setiap detik, 300 kali dalam semenit, 18.000 kali dalam setiap jam, dan nyaris setengah juta sehari-semalam, seseorang entah di belahan dunia mana, berbinar, harap-harap cemas. gemetar, malu-malu menyatakan perasaannya.
Paragraf sebelumnya saya ambil dari salah satu buku Tere-Liye, "Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah".
Ya, boleh jadi satu dari antara satu miliar lebih cerita tersebut merupakan cerita saya. Bisa saja cerita yang lalu, atau cerita yang sedang dijalani saat ini. Terasa atau tidak terasa, saya yakinkan, pastilah saya berada pada sebuah alur cerita yang besar, yang di dalamnya terdapat beberapa cerita yang berkumpul menjadi sebuah cerita. Dan cerita memang selalu bercerita bukankah?
Saya akui, dalam masa-masa yang lalu, saya mungkin telah melakukan kebodohan dengan mengatas namakan cinta. Sok sok menjadi orang yang benar, tanpa tahu sebetulnya itu salah. Atau sesungguhnya saya tahu itu salah, tapi menafikan diri dari kebenaran. Atau jatuh kembali di lubang yang sama setelah tahu itu salah, dan itu lebih buruknya.
Beruntungnya saya, memiliki lingkaran kecil yang senantiasa mengingatkan. Selalu memberitahu kebenaran dengan caranya. Dan saya belajar bahwa kebodohan-kebodohan yang terjadi di masa lalu, itulah yang membentuk saya yang sekarang ini. Dan masa lalu ini saya anggap sebagai sejarah, baik atau buruknya, utuh. Seperti kata Ust. Felix Siauw, "Sejarah memberikan kepada seseorang lebih dari sekedar informasi, ia menyusun cara berfikir seseorang saat ini dan menentukan langkah apa yang akan dia ambil pada masa yang akan datang."
Dari sini, saya belajar untuk memantaskan diri, memantapkan hati.
Jatuh cinta itu tidak salah, semuanya tergantung niat. Saya pun mulai mengangguk, menemukan korelasi kenapa Hadits Arba'in nomer satu itu mengenai niat.
Kata Ust. Fauzil 'Adhim, awalnya memang dari niat. Karena memang Allah selalu mengintai niat yang terbersit untuk dijadikan pertanyaan pertanggungjawaban. Juga karena Allah meletakkan karunia balasan pada niat yang diteguhkan.
Tentang menikah, ini pun sangat memerlukan niatan. Niatan yang mengandung unsur fitrah, fiqhiyah, dakwah, tarbiyah, sosial, dan budaya.
Sekali lagi, awalnya memang dari niat. Bayangkan.. Niat ketika kita berazzam untuk bersegera merenda sebuah kebersamaan suci dalam naungan ridha Ilahi. Niat ketika menetapkan kriteria-kriteria. Niat ketika kita memulai sebuah proses yang bersih, tanpa interaksi yang mubadzir dan merusak hati (khawatir dengan kebodohan yang terulang). Niat ketika menghilangkan kecenderungan dan menyerahkan semuanya kepada Allah. Niat ketika dipertemukan. Niat dan niat, ketika dan ketika.
Yang saya fahami momen pernikahan adalah sebuah momen yang besar. Bagi saya sebagai seorang laki-laki, artinya saya akan bertambah amanah, dari tanggung jawab atas diri saya sendiri menjadi tanggung jawab terhadap sebuah keluarga. Yang teramat dahsyat sebenarnya ada di pihak wanita. Bayangkan dia yang sedari kecil sampai besar diasuh dan dididik dengan baik oleh kedua orang tuanya. Lalu, ketika dia dipersunting oleh seorang pria, ada yang harus lebih dia hormati dan taati dari orang-orang yang mengasuhnya. Siapa? Betul, suaminya. Dalam konteks ini, mungkin saya, suatu saat nanti. Hal ini yang menjadi sebuah pertanyaan yang seharusnya mengokohkan niat. Seberapa besar kesiapan saya sebagai laki-laki, menerima limpahan perwalian seorang perempuan dari ayahnya? It's a Big Waw..
Lalu visi pun terpikirkan. Saya jadi teringat tulisan Ust. Anis Matta dalam "Serial Cinta"-nya.. Saya copas seutuhnya..
Adakah doa cinta yang lebih agung daripada apa yang diajarkan sang Rasul kepada kita di malam pertama saat kita meletakkan dasar dari bangunan hubungan jiwa yang abadi? Letakkan tangan kananmu di atas ubun-ubun istrimu, lalu ucapkan do'a ini dengan lembut:Saya rasa, dari sinilah sebuah Peradaban baru dimulai. Siapa yang tidak mau, dari sebuah keluarga kecil lahir jundi-jundi kecil berjiwa ghazi, kesatria penegak kebenaran pada jaman penaklukan Konstantinopel?
Ya Allah, aku mohon pada-Mu kebaikan perempuan ini
dan semua kebaikan yang tercipta
bersama penciptaannya.
Dari sini pun, saya belajar untuk memantaskan diri, memantapkan hati.
Namun saya akui, saya masih terlalu jauh dari kata Shaleh untuk memulai sebuah proses Ta'aruf.
Tapi ya Allah, izinkan saya memulainya.
Jika memang sudah waktunya, tolong mudahkanlah, jika memang belum, berilah kelapangan hati untuk saya agar senantiasa terus memperbaiki diri.
Ya, ini doa. Doa itu.. Pergi dengan harapan, kembali lagi dengan ridha dan karunia..
Bismillah..
Teruntuk dirimu,
yang bila aku menujumu, selalu ingatkanku untuk berpaling pada Allah lewat matamu,
bertanyalah tentang kabar ibadahku
Senin, 03 November 2014
Jejak Pendakian Gunung Tampomas, Sumedang
Puncak Ke-8..
Tulisan ini bercerita, bukan murni sebuah itinerary..
Biasanya di awal tulisan suka ditampilkan foto dari gunung yang bersangkutan, tapi pada tulisan kali ini tak bisa ditampilkan, kenapa, karena lupa memfotonya dari jauh. Kalau mencomot hasil foto dari orang lain, rasanya ada yang mengganjal saja. Hhe.. Jadilah diganti dengan foto saya dan teman-teman yang mendaki. Semoga berkenan..
| Sanghyang Taraje, Puncak Tampomas, 1684 mdpl |
Gunung Tampomas terletak di Kota Sumedang, satu kota dengan rumah nenek saya. Tak perlu ditanya, sejak kecil saya sudah terbiasa melihat gunung ini berdiri kokoh dari sudut pandang selasar rumah nenek. Sudah lama juga muncul keinginan untuk mendakinya, namun waktunya saja baru kesampaian sekarang.
Setelah bertralala-trilili mencari teman yang mw mendaki gunung ini, terkumpulah lima orang, termasuk saya (M. Luthfi Fajar @aa_upayy, Aditrian Rahim @AditrianR, Melisa Illina @melisyong, Meilinda Harumsari @meilme, Abdullah Azzam @AzzamAbdullah28). Eh, enam orang ding, tapi yang satu orang ini (Ryan Hidayat, @ryanhdayat) tak ikut bermalam di gunungnya, dia ber-Trail Running gitu, semacam naik turun gunung sambil lari-lari, bisa dibayangkanlah yaa, udah dewa ini dia mah. Hha..
Kami mendaki hari Jum'at-Sabtu. Yupz, agar hari minggunya bisa dipergunakan untuk beristirahat gitu. Jadilah kami semua cuti pada hari Jum'at, kecuali Azzam yang cukup titip absen (contoh buruk :p), karena dia masih mengenyam bangku kuliah. Hhe..
Rencana awal dalam itinerary yang sudah saya buat sebelumnya, kami akan bermotor ria gitu ke Kota Sumedangnya. Sempat menjadi perdebatan memang masalah bermotor ini, lelahlah, menghabiskan waktulah, dan variabel lainya. Tapi Allah memang selalu memberi jalan yang tdak disangka-sangka. Dan rezeki tak perlu di tolak, ternyata papa saya mw mengantar nenek pulang gitu ke Sumedang. Jadilah kami berlima (Ryan berangkat dari Bandung karena ada kerjaan di sana) ikut naik Mobil papa saya menuju kota Sumedang. Mantaps..
Check Point pertama adalah rumah nenek saya. Semua bahan makanan dan apa pun yang masih kurang untuk perjalanan di beli di Sumedang. Sebelum Shalat Jum'at kami pun mempersiapkan semua-muanya sampai benar-benar siap. Tapi ya seperti biasa, Ryan memang selalu telat dan benar-benar mengkhawatirkan yang lain. ckckck.. Dia dari Bandung berangkat entah jam berapa, ditunggu-tunggu hingga Selesai Shalat Jum'at tak kunjung juga datang. Hha.. Saat waktu menunjukan pukul satu siang pun, di kala kami semua sudah siap dengan ransel-ransel kami, Ryan belum juga datang. Dan akhirnya, yang ditunggu-tunggu hadir juga pukul setengah dua dengan muka tanpa bersalahnya. Setelah itu, setengah jam kemudian dihabisakan untuk menunggu Ryan beres-beres. -.-"
| Persiapan |
Kami akan melalui Jalur Penggalian Pasir, yang terletak di daerah Cimalaka. Dari rumah nenek ke penggalian pasir ini hanya sebentar, apalagi kalau diantar pakai mobil. Hhe..
Jika teman-teman menggunakan angkutan umum, biasanya kalau dari bandung ada mobil elf gitu yang teman-teman bisa turun di pertigaan awal penggalian pasir. Kalau naik bus hingga terminal sumedang, bisa dilanjutkan dengan carter angkot ke sana, kira-kira biayanya 50ribu lah. easy to reach..
Kira-kira kami sampai disana sekitar pukul setengah tiga. Mobil yang dibawa papa saya tadinya akan mengantarkan sampai atas, warung terakhir penggalian pasir. Namun, karena di tengah-tengah jalan jalurnya mulai kurang bagus dan menanjak. jadilah kami diantarkan hanya sampai pertengahan. Lumayan lah. Kalau dari pertigaan awal penggalian pasir sampai warung terakhir ini kira-kira jaraknya 2-2,5 km, berpasir, berdebu, panas terik..
Jika temen-temen menggunakan angkutan umum, dari pertigaan awal penggalian pasir ini kalian bisa nebeng sama truk-truk yang akan ke atas. Biasanya sih dengan terima kasih juga cukup, tapi kalau mau memberi juga tak apa, sudah dibantu juga kan..
| Pertengahan jalan, tempat kami diturunkan. |
| Berfoto sebelum memulai pendakian. |
Saat turun dari mobil, terasa sekali terik panasnya. Pepohonan yang tidak ada, debu memenuhi ruang udara, dan pasir kerikil men-sesaki jalan. Ketika pandangan berputar, terlihat sekali bahwa kaki gunung ini telah dikeruk isi alamnya. Banyak sekali truk-truk pembawa pasir hilir mudik. Kontur daratannya pun semacam bopeng-bopeng bekas kerukan. Yah, begitulah..
Rian sebagai leader dalam pendakian memimpin doa dan pendakian pun dimulai. Pukul 14.49 WIB.
| Penggalian Pasir |
Perjalanan kami lanjutkan ke warung terakhir di penggalian pasir, check point terakhir sebelum benar-benar mendaki. Sesungguhnya jaraknya tidak begitu jauh, mungkin karena panas, jalan menanjak, pasir dan debu dimana-mana, membuat kita mudah lelah. Apa saya saja ya yang waktu kayanya cape banget. Hhe..
| Berjalan di antara debu-debu |
Setelah sampai di warung, kami istirahat sejenak. Debu-debu tertinggal di belakang mulai tergantikan dengan pepohonan kecil setinggi pinggang. Setelah lima menit, kami berangkat kembali. Jalanan masih aspal, sekitar 100 meter jalanan aspal habis, tergantikan jalan tanah setapak yang menanjak. Kami menanjak, dan lalat-lalat langsung menyerbu kami. Dan kami akhirnya menyadari bahwa pada cerukan yang berada di sebelah kanan tempat kami berjalan merupakan Tempat Pembuangan Akhir sampah-sampah dari seantero Kota Sumedang. Terbayangkan sampahnya sebanyak apa? Hha.. Saya sarankan teman-teman untuk menggunakan apapun untuk menutupi lengan dan wajah. Lalat-lalatnya super banyak, sungguh, agak risih juga..
| Tempat Pembuangan Akhir Kota Sumedang dilihat dari atas. |
Setelah melewati TPA tadi, jalan tanah setapak mulai melebar, cukup untuk satu mobil. Tanah tempat kami berjalan pun mulai tertutupi bebatuan. Nampaknya jalan ini memang dibuat untuk jalur motor trail atau bahkan mobil. Tidak lama, terhampar di depan kami hutan pinus, indah, semacam gerbang yang menyambut kedatangan kami. Hutan pinus ini memberikan sensasi yang berbeda dalam pendakian. Jika kita melihat ke atas terlihat sekali pucuknya yang melambai-lambai berbarengan, seirama dengan arah angin.
Kami berlima berpisah dengan Ryan disini. Ryan memulai Running-nya, jadi dia meninggalkan kami yag hanya mampu berjalan, karena membawa ransel yang berat. Hhe..
![]() |
| Menuju Hutan Pinus |
| Berpisah dengan Ryan yang akan berlari |
![]() |
| Hutan Pinus |
Jalan di hutan pinus ini sedikit menanjak, lumayanlah pemanasan. Setelah menemukan sebuah pos atau gubuk, ada jalan setapak kecil menanjak yang berpisah dari jalan utama yang berbatu, jalan inilah yang akan menuju ke puncak Gunung Tampomas. Tak perlu bingung, tenang saja, pada pohon pinus di dekat jalan setapaknya ada plang yang memberi tahu bahwa pos 1 ke arah sana.
Owh ya, penanda pada gunung Tampomas itu lucu, berbentuk tanda panah gitu. Jadi jika plangnya bertuliskan pos 1, artinya "Pos 1 ke arah sana" dan kita itu berada pada pos 0, kalau tulisannya pos 2, artinya kita berada di pos 1, seterusnya begitu. Hhe..
Jumlah pos di Gunung Tapomas itu ada 6 pos. Pos ke-6 adalah puncaknya..
![]() |
| Menuju Pos 1 |
Keindahan pohon pinus hanya mengiringi kami hingga Pos 1. Setelah itu jalur pendakian hampir sama layaknya jalur pendakian gunung-gunung khas Jawa Barat.
Dari pos 1-4 jalurnya tanah menanjak. Santailah. Mulai dari pos 4 harus mulai berhati-hati karena beberapa bagian ada yang harus mendaki gitu dan di mulai dari pos ini juga jalurnya berbatu.
Kami bertemu dengan Ryan kembali kira-kira setelah melewati pos 4. Dia akan langsung menuju rumah nenek saya untuk bermalam. Saat berpapasan tersebut, Ryan memberitahu kami bahwa puncaknya bagus sekali, dan Gunung Tampomas worthed untuk dijejaki puncaknya. Ryan pun berkata bahwa dia sempat menikmati sunset di puncaknya. Mendengar hal itu, langsung bertambah semangatlah kami walaupun matahari saat itu sudah mulai terbenam.
Kawah Tampomas terletak di antara pos 5 hingga pos 6. Ketika kami berangkat, kami tak bisa menemukan kawahnya, karena hari sudah gelap, jadi tak terlihat apa-apa. Saat di akhir-akhir mau mendekati puncak, mungkin karena gelap, kami bingung arahnya kemana, karena seperti terdapat banyak jalur. Saya bilang ke teman-teman untuk beristirahat sejenak sementara saya mau buang air kecil terlebih dahulu. Ah, memang beruntung, ternyata di dekat tempat saya buang air kecil terdapat plang yang memberi tahu arah pucuk (puncak).
Saya langsung bergegas memberitahu teman-teman yang lain dan tentunya langusng menuju puncak yang ternyata dari tempat tadi saya buang air kecil hanya membutuhkan waktu setengah menit. Hha.. Ketika sampai puncak, saya langsung melepas ransel dan berkeliling melihat pemandangan. Dan benar, puncaknya Indah. Kota Sumedang terlihat kecil sekali di bawah sana. Saya seperti melihat bintang-bintang tapi bukan di atas letaknya, di bawah, hasil perpaduan lampu rumah-rumah dan mobil-motor yang hilir mudik di Kota Sumedang. So Cool..
“Maka ni’mat Robb-mu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman ayat 13)Tak membuang waktu, kami langsung mencari spot yang enak untuk membangun tenda. Angin di puncak besar sekali. Jadi harus pintar-pintar mencari spot. Karena kami kelompok pertama yang sampai puncak, kami memiliki kesempatan terbesar untuk mendapatkan spot itu. Hhe..
Alhamdulillah puncak..
Selanjutnya, kegiatan bebas.. ^^
| Bersiap membangun tenda |
Owh ya kami sampai puncak Puku 19.10 yang artinya Pendakian kami hanya sekitar 4,5 jam. Alhamdulillah..
Ketika bangun di pagi hari, semuanya terlihat lebih jelas. Dan sunrise pun langsung kami peroleh. Sesi foto dimulai..
| Sunrise |
| Photo Session |
![]() |
| Foto sendiri. Hhe.. |
| Groufie #1 |
![]() |
| Groufie #2 |
Setelah puas berfoto-foto. Kami pun sarapan sembari membereskan tenda dan packing barang-barang. Kira-kira pukul setengah sembilan kami turun. Saat turun ini lah kami baru bisa melihat dengan jelas kawah Gunung Tampomas. Kawahnya kecil, hanya saja memanjang, kedalamannya tak bisa dikira karena gelap..
![]() |
| Kawah Gunung Tampomas |
Turun gunung pastinya lebih cepat dari mendaki. Yupz, kira-kira pukul setengah sepuluh kami sudah sampai di warung terakhir di penggalian pasir waktu itu. Kami melanjutkan perjalanan ke pertigaan awal dimana kami nantinya bisa menemukan angkot. Uwaw, sungguh, debu-debu kembali mengelilingi kami, panas terik membuatnya lebih menyiksa, tenaga pun tinggal tenaga sisa, agak lumayan juga penutupan perjalanan ini. Hhe.. Beruntung ada satu truk pasir yang mau mengangkut. Karena kapasitasnya tidak banyak, kami persilahkan para wanita yang menumpang, biarlah kami para lelaki yang berjalan. Hhe..
Sampai di bawah, kami langsung men-carter angkot sampai ke depan bukit rumah nenek saya. Carter angkot 50ribu, kami memang tidak berpikir banyak, yang penting bisa segera beristirahat. Hhe.. Dan alhamdulillah sekitar pukul dua belas kami sudah bisa beristirahat di rumah nenek saya..
Yak begitulah perjalanan Mendaki Gunung Tampomas. Sekali lagi, setiap gunung memang memiliki keindahannya masing-masing. Bersyukur. Dan kembali mengucapkan syukur karena masih dapat diberi kesempatan untuk menjejak puncak ke delapan ini.. Dimulai dari Rinjani, Cikuray, Papandayan, Gede, Pangrango, Guntur, Ciremai, dan ini Tampomas.. Insya Allah puncak-puncak lain nantinya.. ^^
Semoga dengan pendakian-pendakian yang telah dijalani membuat kami semakin menjadi manusia-manusia yang berpikir..
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. Al-Baqarah ayat 164)Amiiin.. ^^
SALAM PENDAKI!!!
Langganan:
Postingan (Atom)







