Sabtu, 28 Februari 2015

Ikatan yang Kuat

Ikatan apa yang kuat?

Ikatan Persahabatan.

Saya rasa setiap kita memiliki inner circle-nya masing-masing. Dan sungguh, jika memang manusia normal, rasanya tak mungkin ada orang yang sanggup hidup seorang diri. Karena apa? Ada kebaikan-kebaikan yang harusnya menjadi jamak.

Sahabat levelnya lebih tinggi dari teman, setidaknya menurut saya. Karena persahabatan muncul melalui proses. Bukan hanya buah dari persamaan, namun juga perbedaan. Klisenya, sahabat selalu ada dalam suka maupun duka. "Selalu ada dalam suka maupun duka" ini memang mencakup semuanya. Ah kalian pasti lebih faham mengenai hal ini daripada saya.

Mari kita tengok satu bait sajak dari Tere Liye tentang sahabat.
Sahabat baik seperti belajar naik sepeda
Walaupun lama tak bersua,
Jarak dan waktu memisahkan,
Saat bertemu kembali, tetap sama
Mungkin sedikit kaku di awalnya, tapi sama menyenangkan
Dan alhamdulillah-nya, saya memiliki sahabat-sahabat baik.. ^^


Lalu, Ikatan apa yang lebih kuat dari ikatan persahabatan?

Ikatan Ukhuwah,
Saya Perjelas: Ikatan Persahabatan yang dilandasi dengan ukhuwah (atas dasar iman)

Islam menjadikan persaudaraan dalam iman sebagai dasarnya. Sebuah keniscayaan bahwa ukhuwah islamiyah akan melahirkan rasa kesatuan dan menenangkan hati manusia. Dalam mencapai kenikmatan ukhuwah ini, setidaknya ada lima proses dalam pembentukannya, dimulai dari ta'aruf (saling mengenal), tafahum (saling memahami), ta'awun (saling menolong), takaful (saling menanggung), dan itsar (mendahulukan orang lain atas diri sendiri).

Kita bisa bertanya pada Musa tentang makna persahabatan yang dilandasi dengan ukhuwah. Tentu dia memiliki seindah-indah jawaban. Setidaknya dari permohonannya kepada Allah, kita tahu bahwa Musa meminta kepada Allah agar Harun dijadikan penguat di sisinya, atas berbagai kelemahan yang dimilkinya. Ya, mengemban risalah dengan kesulitan-kesulitan diri seperti seorang Musa membuat sahabat menjadi hajat yang mendesak.
"Dan Allah mempersatukan hati para hamba beriman. Jikapun kau nafkahkan perbendaharaan bumi seluruhnya untuk mengikat hati mereka, takkan bisa kau himpunkan hati mereka. Tetapi Allah-lah yang telah menyatupadukan mereka..." (Q.s. Al-Anfaal [8]: 63)
Kalau kata Sayyid Quthb, "Aqidah ini memang ajaib! Ketika telah meresap dalam hati, ia akan menjadikan hati itu dipenuhi rasa cinta dan kasih sayang sesamanya. Yang keras beralih jadi lunak, yang liar menjadi jinak. Ia-ia berjalin kelindan di antara sesamnaya dengan jalinan yang kokoh, dalam, dan empuk."

Yupz, dalam dekapan ukuwah, kita bersaudara karena iman. Karena iman. Karena iman. Dengannya kita mengambil cinta dari langit, lalu menebarkannya di bumi.

Ustadz Salim A. Fillah ini memang selalu menginspirasi. Saya belajar mengenai ukhuwah dari buku beliau, "Dalam Dekapan Ukhuwah". Semoga pahala senantiasa mengalir untuk beliau.


Lalu, Ikatan apa yang lebih kuat dari ikatan ukhuwah?

Ikatan Pernikahan
Saya perjelas: Ikatan Pernikahan yang disana kita bersahabat berdasarkan ukhuwah

Setelah suatu saat nanti saya mengucapkan akad nikah, setelah menikmati detik demi detik penuh doa dalam walimah. Sesungguhnya nanti itu saya sudah mengambil dari diri saya sendiri sebuah perjanjian yang berat. Al-Qur'an menyebutnya miitsaqan ghaliizhaa, frasa yang muncul hanya tiga kali dalam Al-Qur'an. Kurang berat apa, dua miitsaqan ghaliizhaa yang lain adalah perjanjian besar Allah dengan Bani Israil sampai-sampai Ia mengangkat gunung Thursina ke atas mereka, dan juga perjanjian agung antara Allah dan Rasul-rasul-Nya.

Mengenai hal ini saya belum bisa berbicara banyak. Ya kan belum menikah. Hhe.. Hanya bisa mereka-mereka. Tapi saya yakin, ketika sebuah pernikahan yang didalamnya kedua pasangannya memulai persahabatan lalu mendasarkan semuanya atas nama Allah pastilah ikatan pernikahan itu akan dijadikan kuat, sekuat-kuatnya. Insya Allah, Amiin.

Saya berazzam, untuk menuju ke arah sana (sebuah pernikahan), tentunya saya harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Saaangaaat mempersiapkan. Harapannya saya bisa menjadi keberkahan untuk istri saya nantinya, begitu pula sebaliknya. Jangan sampai lah yaa saya bukannya menjadi berkah, malah jadi musibah. Na'udzubillah..

Jadi ingat ayat ini..
"Teman-teman akrab (yang berkasih-kasihan) pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa." (Q.s. Az-Zukhruf [43]: 67)
Dari ayat ini yang saya bisa serap adalah bahwa banyak orang yang di dunia ini saling mencintai, dan berkasih-kasihan, kelak di akhirat mereka justru saling bermusuhan. Kecuali orang yang membangun cintanya atas landasan takwa karena Allah Swt.

Saya berharap saya bisa membangun cinta dan menjaga cinta dengan istri saya nantinya atas landasan takwa. Saya mencintai karena Allah dan dicintai karena Allah semata. Karena cinta memang harus dikembalikan kepada fitrahnya yang suci. Yaitu cinta yang dibangun atas landasan iman dan takwa. Cinta seperti ini yang insya Allah akan saya bawa ke akhirat kelak. Amiin..


foot note:
1. Tulisan ini opini pribadi atas pengetahuan pribadi yang diturunkan dari pengetahun orang lain. afwan jika memang ada yang salah.
2. Waktunya semakin dekat.

Sabtu, 31 Januari 2015

Teruntuk Dirimu

Tulisan ini ditulis dalam deru degup yang kencang..
Di tengah keharuan yang membentuk harapan..

Maafkan hamba ya Allah, karena terlalu terlarut dalam perasaan..

Ada sekitar tujuh miliar penduduk bumi saat ini. Jika separuh saja dari mereka pernah jatuh cinta, setidaknya akan ada satu miliar lebih cerita cinta. Akan ada setidaknya 5 kali dalam setiap detik, 300 kali dalam semenit, 18.000 kali dalam setiap jam, dan nyaris setengah juta sehari-semalam, seseorang entah di belahan dunia mana, berbinar, harap-harap cemas. gemetar, malu-malu menyatakan perasaannya.

Paragraf sebelumnya saya ambil dari salah satu buku Tere-Liye, "Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah".

Ya, boleh jadi satu dari antara satu miliar lebih cerita tersebut merupakan cerita saya. Bisa saja cerita yang lalu, atau cerita yang sedang dijalani saat ini. Terasa atau tidak terasa, saya yakinkan, pastilah saya berada pada sebuah alur cerita yang besar, yang di dalamnya terdapat beberapa cerita yang berkumpul menjadi sebuah cerita. Dan cerita memang selalu bercerita bukankah?

Saya akui, dalam masa-masa yang lalu, saya mungkin telah melakukan kebodohan dengan mengatas namakan cinta. Sok sok menjadi orang yang benar, tanpa tahu sebetulnya itu salah. Atau sesungguhnya saya tahu itu salah, tapi menafikan diri dari kebenaran. Atau jatuh kembali di lubang yang sama setelah tahu itu salah, dan itu lebih buruknya.

Beruntungnya saya, memiliki lingkaran kecil yang senantiasa mengingatkan. Selalu memberitahu kebenaran dengan caranya. Dan saya belajar bahwa kebodohan-kebodohan yang terjadi di masa lalu, itulah yang membentuk saya yang sekarang ini. Dan masa lalu ini saya anggap sebagai sejarah, baik atau buruknya, utuh. Seperti kata Ust. Felix Siauw, "Sejarah memberikan kepada seseorang lebih dari sekedar informasi, ia menyusun cara berfikir seseorang saat ini dan menentukan langkah apa yang akan dia ambil pada masa yang akan datang."

Dari sini, saya belajar untuk memantaskan diri, memantapkan hati.

Jatuh cinta itu tidak salah, semuanya tergantung niat. Saya pun mulai mengangguk, menemukan korelasi kenapa Hadits Arba'in nomer satu itu mengenai niat.

Kata Ust. Fauzil 'Adhim, awalnya memang dari niat. Karena memang Allah selalu mengintai niat yang terbersit untuk dijadikan pertanyaan pertanggungjawaban. Juga karena Allah meletakkan karunia balasan pada niat yang diteguhkan.

Tentang menikah, ini pun sangat memerlukan niatan. Niatan yang mengandung unsur fitrah, fiqhiyah, dakwah, tarbiyah, sosial, dan budaya.

Sekali lagi, awalnya memang dari niat. Bayangkan.. Niat ketika kita berazzam untuk bersegera merenda sebuah kebersamaan suci dalam naungan ridha Ilahi. Niat ketika menetapkan kriteria-kriteria. Niat ketika kita memulai sebuah proses yang bersih, tanpa interaksi yang mubadzir dan merusak hati (khawatir dengan kebodohan yang terulang). Niat ketika menghilangkan kecenderungan dan menyerahkan semuanya kepada Allah. Niat ketika dipertemukan. Niat dan niat, ketika dan ketika.

Yang saya fahami momen pernikahan adalah sebuah momen yang besar. Bagi saya sebagai seorang laki-laki, artinya saya akan bertambah amanah, dari tanggung jawab atas diri saya sendiri menjadi tanggung jawab terhadap sebuah keluarga. Yang teramat dahsyat sebenarnya ada di pihak wanita. Bayangkan dia yang sedari kecil sampai besar diasuh dan dididik dengan baik oleh kedua orang tuanya. Lalu, ketika dia dipersunting oleh seorang pria, ada yang harus lebih dia hormati dan taati dari orang-orang yang mengasuhnya. Siapa? Betul, suaminya. Dalam konteks ini, mungkin saya, suatu saat nanti. Hal ini yang menjadi sebuah pertanyaan yang seharusnya mengokohkan niat. Seberapa besar kesiapan saya sebagai laki-laki, menerima limpahan perwalian seorang perempuan dari ayahnya? It's a Big Waw..

Lalu visi pun terpikirkan. Saya jadi teringat tulisan Ust. Anis Matta dalam "Serial Cinta"-nya.. Saya copas seutuhnya..
Adakah doa cinta yang lebih agung daripada apa yang diajarkan sang Rasul kepada kita di malam pertama saat kita meletakkan dasar dari bangunan hubungan jiwa yang abadi? Letakkan tangan kananmu di atas ubun-ubun istrimu, lalu ucapkan do'a ini dengan lembut:
Ya Allah, aku mohon pada-Mu kebaikan perempuan ini
dan semua kebaikan yang tercipta
bersama penciptaannya.
Saya rasa, dari sinilah sebuah Peradaban baru dimulai. Siapa yang tidak mau, dari sebuah keluarga kecil lahir jundi-jundi kecil berjiwa ghazi, kesatria penegak kebenaran pada jaman penaklukan Konstantinopel?

Dari sini pun, saya belajar untuk memantaskan diri, memantapkan hati.

Namun saya akui, saya masih terlalu jauh dari kata Shaleh untuk memulai sebuah proses Ta'aruf.
Tapi ya Allah, izinkan saya memulainya.
Jika memang sudah waktunya, tolong mudahkanlah, jika memang belum, berilah kelapangan hati untuk saya agar senantiasa terus memperbaiki diri.

Ya, ini doa. Doa itu.. Pergi dengan harapan, kembali lagi dengan ridha dan karunia..
Bismillah..


Teruntuk dirimu,
yang bila aku menujumu, selalu ingatkanku untuk berpaling pada Allah lewat matamu,
bertanyalah tentang kabar ibadahku

Senin, 03 November 2014

Jejak Pendakian Gunung Tampomas, Sumedang

10-11 Oktober 2014..
Puncak Ke-8..

Tulisan ini bercerita, bukan murni sebuah itinerary..

Biasanya di awal tulisan suka ditampilkan foto dari gunung yang bersangkutan, tapi pada tulisan kali ini tak bisa ditampilkan, kenapa, karena lupa memfotonya dari jauh. Kalau mencomot hasil foto dari orang lain, rasanya ada yang mengganjal saja. Hhe.. Jadilah diganti dengan foto saya dan teman-teman yang mendaki. Semoga berkenan..

Sanghyang Taraje, Puncak Tampomas, 1684 mdpl

Gunung Tampomas terletak di Kota Sumedang, satu kota dengan rumah nenek saya. Tak perlu ditanya, sejak kecil saya sudah terbiasa melihat gunung ini berdiri kokoh dari sudut pandang selasar rumah nenek. Sudah lama juga muncul keinginan untuk mendakinya, namun waktunya saja baru kesampaian sekarang.

Setelah bertralala-trilili mencari teman yang mw mendaki gunung ini, terkumpulah lima orang, termasuk saya (M. Luthfi Fajar @aa_upayy, Aditrian Rahim @AditrianR, Melisa Illina @melisyong, Meilinda Harumsari @meilme, Abdullah Azzam @AzzamAbdullah28). Eh, enam orang ding, tapi yang satu orang ini (Ryan Hidayat, @ryanhdayat) tak ikut bermalam di gunungnya, dia ber-Trail Running gitu, semacam naik turun gunung sambil lari-lari, bisa dibayangkanlah yaa, udah dewa ini dia mah. Hha..

Kami mendaki hari Jum'at-Sabtu. Yupz, agar hari minggunya bisa dipergunakan untuk beristirahat gitu. Jadilah kami semua cuti pada hari Jum'at, kecuali Azzam yang cukup titip absen (contoh buruk :p), karena dia masih mengenyam bangku kuliah. Hhe..

Rencana awal dalam itinerary yang sudah saya buat sebelumnya, kami akan bermotor ria gitu ke Kota Sumedangnya. Sempat menjadi perdebatan memang masalah bermotor ini, lelahlah, menghabiskan waktulah, dan variabel lainya. Tapi Allah memang selalu memberi jalan yang tdak disangka-sangka. Dan rezeki tak perlu di tolak, ternyata papa saya mw mengantar nenek pulang gitu ke Sumedang. Jadilah kami berlima (Ryan berangkat dari Bandung karena ada kerjaan di sana) ikut naik Mobil papa saya menuju kota Sumedang. Mantaps..

Check Point pertama adalah rumah nenek saya. Semua bahan makanan dan apa pun yang masih kurang untuk perjalanan di beli di Sumedang. Sebelum Shalat Jum'at kami pun mempersiapkan semua-muanya sampai benar-benar siap. Tapi ya seperti biasa, Ryan memang selalu telat dan benar-benar mengkhawatirkan yang lain. ckckck.. Dia dari Bandung berangkat entah jam berapa, ditunggu-tunggu hingga Selesai Shalat Jum'at tak kunjung juga datang. Hha.. Saat waktu menunjukan pukul satu siang pun, di kala kami semua sudah siap dengan ransel-ransel kami, Ryan belum juga datang. Dan akhirnya, yang ditunggu-tunggu hadir juga pukul setengah dua dengan muka tanpa bersalahnya. Setelah itu, setengah jam kemudian dihabisakan untuk menunggu Ryan beres-beres. -.-"

Persiapan

Kami akan melalui Jalur Penggalian Pasir, yang terletak di daerah Cimalaka. Dari rumah nenek ke penggalian pasir ini hanya sebentar, apalagi kalau diantar pakai mobil. Hhe..
Jika teman-teman menggunakan angkutan umum, biasanya kalau dari bandung ada mobil elf gitu yang teman-teman bisa turun di pertigaan awal penggalian pasir. Kalau naik bus hingga terminal sumedang, bisa dilanjutkan dengan carter angkot ke sana, kira-kira biayanya 50ribu lah. easy to reach..

Kira-kira kami sampai disana sekitar pukul setengah tiga. Mobil yang dibawa papa saya tadinya akan mengantarkan sampai atas, warung terakhir penggalian pasir. Namun, karena di tengah-tengah jalan jalurnya mulai kurang bagus dan menanjak. jadilah kami diantarkan hanya sampai pertengahan. Lumayan lah. Kalau dari pertigaan awal penggalian pasir sampai warung terakhir ini kira-kira jaraknya 2-2,5 km, berpasir, berdebu, panas terik..
Jika temen-temen menggunakan angkutan umum, dari pertigaan awal penggalian pasir ini kalian bisa nebeng sama truk-truk yang akan ke atas. Biasanya sih dengan terima kasih juga cukup, tapi kalau mau memberi juga tak apa, sudah dibantu juga kan..

Pertengahan jalan, tempat kami diturunkan.

Berfoto sebelum memulai pendakian.

Saat turun dari mobil, terasa sekali terik panasnya. Pepohonan yang tidak ada, debu memenuhi ruang udara, dan pasir kerikil men-sesaki jalan. Ketika pandangan berputar, terlihat sekali bahwa kaki gunung ini telah dikeruk isi alamnya. Banyak sekali truk-truk pembawa pasir hilir mudik. Kontur daratannya pun semacam bopeng-bopeng bekas kerukan. Yah, begitulah..
Rian sebagai leader dalam pendakian memimpin doa dan pendakian pun dimulai. Pukul 14.49 WIB.

Penggalian Pasir

Perjalanan kami lanjutkan ke warung terakhir di penggalian pasir, check point terakhir sebelum benar-benar mendaki. Sesungguhnya jaraknya tidak begitu jauh, mungkin karena panas, jalan menanjak, pasir dan debu dimana-mana, membuat kita mudah lelah. Apa saya saja ya yang waktu kayanya cape banget. Hhe..

Berjalan di antara debu-debu

Setelah sampai di warung, kami istirahat sejenak. Debu-debu tertinggal di belakang  mulai tergantikan dengan pepohonan kecil setinggi pinggang. Setelah lima menit, kami berangkat kembali. Jalanan masih aspal, sekitar 100 meter jalanan aspal habis, tergantikan jalan tanah setapak yang menanjak. Kami menanjak, dan lalat-lalat langsung menyerbu kami. Dan kami akhirnya menyadari bahwa pada cerukan yang berada di sebelah kanan tempat kami berjalan merupakan Tempat Pembuangan Akhir sampah-sampah dari seantero Kota Sumedang. Terbayangkan sampahnya sebanyak apa? Hha.. Saya sarankan teman-teman untuk menggunakan apapun untuk menutupi lengan dan wajah. Lalat-lalatnya super banyak, sungguh, agak risih juga..

Tempat Pembuangan Akhir Kota Sumedang dilihat dari atas.

Setelah melewati TPA tadi, jalan tanah setapak mulai melebar, cukup untuk satu mobil. Tanah tempat kami berjalan pun mulai tertutupi bebatuan. Nampaknya jalan ini memang dibuat untuk jalur motor trail atau bahkan mobil. Tidak lama, terhampar di depan kami hutan pinus, indah, semacam gerbang yang menyambut kedatangan kami. Hutan pinus ini memberikan sensasi yang berbeda dalam pendakian. Jika kita melihat ke atas terlihat sekali pucuknya yang melambai-lambai berbarengan, seirama dengan arah angin.

Kami berlima berpisah dengan Ryan disini. Ryan memulai Running-nya, jadi dia meninggalkan kami yag hanya mampu berjalan, karena membawa ransel yang berat. Hhe..

Menuju Hutan Pinus

Berpisah dengan Ryan yang akan berlari

Hutan Pinus

Jalan di hutan pinus ini sedikit menanjak, lumayanlah pemanasan. Setelah menemukan sebuah pos atau gubuk, ada jalan setapak kecil menanjak yang berpisah dari jalan utama yang berbatu, jalan inilah yang akan menuju ke puncak Gunung Tampomas. Tak perlu bingung, tenang saja, pada pohon pinus di dekat jalan setapaknya ada plang yang memberi tahu bahwa pos 1 ke arah sana.

Owh ya, penanda pada gunung Tampomas itu lucu, berbentuk tanda panah gitu. Jadi jika plangnya bertuliskan pos 1, artinya "Pos 1 ke arah sana" dan kita itu berada pada pos 0, kalau tulisannya pos 2, artinya kita berada di pos 1, seterusnya begitu. Hhe..

Jumlah pos di Gunung Tapomas itu ada 6 pos. Pos ke-6 adalah puncaknya..

Menuju Pos 1

Keindahan pohon pinus hanya mengiringi kami hingga Pos 1. Setelah itu jalur pendakian hampir sama layaknya jalur pendakian gunung-gunung khas Jawa Barat.

Dari pos 1-4 jalurnya tanah menanjak. Santailah. Mulai dari pos 4 harus mulai berhati-hati karena beberapa bagian ada yang harus mendaki gitu dan di mulai dari pos ini juga jalurnya berbatu.

Kami bertemu dengan Ryan kembali  kira-kira setelah melewati pos 4. Dia akan langsung menuju rumah nenek saya untuk bermalam. Saat berpapasan tersebut, Ryan memberitahu kami bahwa puncaknya bagus sekali, dan Gunung Tampomas worthed untuk dijejaki puncaknya. Ryan pun berkata bahwa dia sempat menikmati sunset di puncaknya. Mendengar hal itu, langsung bertambah semangatlah kami walaupun matahari saat itu sudah mulai terbenam.

Kawah Tampomas terletak di antara pos 5 hingga pos 6. Ketika kami berangkat, kami tak bisa menemukan kawahnya, karena hari sudah gelap, jadi tak terlihat apa-apa. Saat di akhir-akhir mau mendekati puncak, mungkin karena gelap, kami bingung arahnya kemana, karena seperti terdapat banyak jalur. Saya bilang ke teman-teman untuk beristirahat sejenak sementara saya mau buang air kecil terlebih dahulu. Ah, memang beruntung, ternyata di dekat tempat saya buang air kecil terdapat plang yang memberi tahu arah pucuk (puncak).

Saya langsung bergegas memberitahu teman-teman yang lain dan tentunya langusng menuju puncak yang ternyata dari tempat tadi saya buang air kecil hanya membutuhkan waktu setengah menit. Hha.. Ketika sampai puncak, saya langsung melepas ransel dan berkeliling melihat pemandangan. Dan benar, puncaknya Indah. Kota Sumedang terlihat kecil sekali di bawah sana. Saya seperti melihat bintang-bintang tapi bukan di atas letaknya, di bawah, hasil perpaduan lampu rumah-rumah dan mobil-motor yang hilir mudik di Kota Sumedang. So Cool..
“Maka ni’mat Robb-mu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman ayat 13)
Tak membuang waktu, kami langsung mencari spot yang enak untuk membangun tenda. Angin di puncak besar sekali. Jadi harus pintar-pintar mencari spot. Karena kami kelompok pertama yang sampai puncak, kami memiliki kesempatan terbesar untuk mendapatkan spot itu. Hhe..
Alhamdulillah puncak..
Selanjutnya, kegiatan bebas.. ^^

Bersiap membangun tenda

Owh ya kami sampai puncak Puku 19.10 yang artinya Pendakian kami hanya sekitar 4,5 jam. Alhamdulillah..

Ketika bangun di pagi hari, semuanya terlihat lebih jelas. Dan sunrise pun langsung kami peroleh. Sesi foto dimulai..

Sunrise

Photo Session

Foto sendiri. Hhe..

Groufie #1

Groufie #2

Setelah puas berfoto-foto. Kami pun sarapan sembari membereskan tenda dan packing barang-barang. Kira-kira pukul setengah sembilan kami turun. Saat turun ini lah kami baru bisa melihat dengan jelas kawah Gunung Tampomas. Kawahnya kecil, hanya saja memanjang, kedalamannya tak bisa dikira karena gelap..

Kawah Gunung Tampomas

Turun gunung pastinya lebih cepat dari mendaki. Yupz, kira-kira pukul setengah sepuluh kami sudah sampai di warung terakhir di penggalian pasir waktu itu. Kami melanjutkan perjalanan ke pertigaan awal dimana kami nantinya bisa menemukan angkot. Uwaw, sungguh, debu-debu kembali mengelilingi kami, panas terik membuatnya lebih menyiksa, tenaga pun tinggal tenaga sisa, agak lumayan juga penutupan perjalanan ini. Hhe.. Beruntung ada satu truk pasir yang mau mengangkut. Karena kapasitasnya tidak banyak, kami persilahkan para wanita yang menumpang, biarlah kami para lelaki yang berjalan. Hhe..

Sampai di bawah, kami langsung men-carter angkot sampai ke depan bukit rumah nenek saya. Carter angkot 50ribu, kami memang tidak berpikir banyak, yang penting bisa segera beristirahat. Hhe.. Dan alhamdulillah sekitar pukul dua belas kami sudah bisa beristirahat di rumah nenek saya..

Yak begitulah perjalanan Mendaki Gunung Tampomas. Sekali lagi, setiap gunung memang memiliki keindahannya masing-masing. Bersyukur. Dan kembali mengucapkan syukur karena masih dapat diberi kesempatan untuk menjejak puncak ke delapan ini.. Dimulai dari Rinjani, Cikuray, Papandayan, Gede, Pangrango, Guntur, Ciremai, dan ini Tampomas.. Insya Allah puncak-puncak lain nantinya.. ^^

Semoga dengan pendakian-pendakian yang telah dijalani membuat kami semakin menjadi manusia-manusia yang berpikir..
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. Al-Baqarah ayat 164)
Amiiin.. ^^

SALAM PENDAKI!!!

Ojek Payung

Kemarin selepas pulang dari Bandung..

Waktu Ashar akan habis, hujan pun deras sekali, berlebih malah. Jarak pandang gw tertahan hanya dalam radius beberapa meter. Plan B, gw pacu mobil gw ke Sentul City dimana terdapat Masjid Andalusia dengan harapan masih sempat untuk menunaikan Shalat Ashar. Sempat sii mengutuki diri, kenapa di Bandung tadi tidak di Jama' saja shalatnya..

Hujan masih deras juga, mobil gw sudah terparkir rapi di pelataran Masjid Andalusia. Ada anak kecil dengan payungnya lari tergopoh-gopoh ke arah pintu mobil. Badannya pun kuyup.

"Ojek Payung Pak?", si anak kecil bertanya dari luar mobil. Badannya terlihat kuyup.
"Pay, mau pake ojek payung ga?", Rian menengok ke arah gw dari kursi sebelah.
"Gw belum pernah make jasa ojek payung. Hha..", jawab gw sembari mengenakan sandal treking yang ada kaitnya.
"Yaudah lah lagi hujan deras ini, kita pinjem payung anaknya. Goceng cukup lah yaa."
"Goceng ga kemahalan? Elaah, kan cuma 10 meter itu ke mesjidnya. Tapi tanya dulu aja berapaan."
"De, ojek payung berapa?", Tanya Rian.
"Seikhlasnya saja bapa mw ngasihnya berapa.", Jawab si anak kecil.

Deg.. Gw dan Rian saling tengok. Gw sebenarnya bertanya-tanya. Apa setiap ojek payung itu seperti itu tarifnya: Keikhlasan.

"Yaudah, kita pinjem payungnya Yan."
"Yaudah, gw dulu aja ya pay, ntar gw ke pintu lu."
"OK"

Rian mengambil payung dari anaknya lalu berjalan ke pintu gw. Gw turun dari mobil, nebeng berpayung ke Rian. Gw celingukan, mencari anak kecil tadi. Ini pemandangan biasa sebenarnya, saat payung si ojek payung nya dipakai oleh si pengguna jasa, si ojek payung pasti hujan-hujanan. Tapi gw tergelitik saja untuk berbincang.

"Hai ade, namanya siapa?"
"Agus."
"Kamu sekolah?"
"Iya pak, kelas 5 SD."
"Sini-sini, kenapa kamu hujan-hujanan deh, bertiga aja payungan."
"Ah gapapa pak, sudah terlanjur basah kuyup."
"Gini deh, kenapa kamu ga bawa dua payung aja? kan satu payungnya kamu pinjemin, yang satu lagi bisa kamu pakai. Kalau kaya gini kan kamu bisa sakit gus."

Dan apa jawaban Agus..

"Sakit sehatnya saya Allah yang mengatur pak."

Subhanallah..
Kalau dia orang dewasa, argumen dia kurang kuat sesungguhnya. Gw bisa aja membalikkan bahwa tawakkal itu harus, tapi usaha juga merupakan sebuah kewajiban. Hhe..
Tapi karena jawaban ini keluar dari jawaban anak kecil, ya gw terkesima aja. Anak kecil seperti dia sudah bisa berpikir seperti itu. Menyerahkan dirinya kepada Allah. Melibatkan Allah dalam pekerjaan kecilnya, ojek payung. Gw malu. Gw kerja Senin sampai Jum;at. Pagi hingga petang, bahkan seringnya malam. Sudah sejauh apa gw melibatkan Allah dalam apa-apa yang gw kerjakan?

Terima kasih Agus, sudah mengingatkan dengan caranya..

Tapi ada satu pertanyaan lagi. Kenapa Agus manggil gw sama Rian "Pak" ya, padahal kita masih muda. Hha..

Minggu, 26 Oktober 2014

Love and Hate

Love..
Love until you hate..
Then, learn to hate your love..
Then, forgive your hate for loving it..

Rabu, 22 Oktober 2014

Bebahagialah yang Memiliki Kami dan Kami Memilikinya

Aku bertanya, "Ya Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?"

Beliau menjawab, "Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari seperti kelebihan apa yang nampak dari apa yang tidak terlihat."

Aku bertanya, "Mengapa wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari?"

Beliau menjawab, "Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuningan, sanggulnya mutiara, dan sisinya terbuat dari emas. Mereka berkata, 'Kami hidup abadi dan tidak mati. Kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali. Kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya."

(HR. Ath-Thabrani, dari Ummu Salamah) 

Jumat, 03 Oktober 2014

24

..--- ....-


-... .. ... -- .. .-.. .-.. .- ....

.----
.. . .-.. - ... / ... -.-. --- .-. . / --- ..-. / -.... --..-- ..... / -- .. -. .. -- ..- -- / .-- .. - .... / -.... / .. -. / .- .-.. .-.. / ... ..- -... -....- -.-. .- - . --. --- .-. .. . ...

..---
--. . - - .. -. --. / ... -.-. .... --- .-.. .- .-. ... .... .. .--. / - --- / ... - ..- -.. -.-- / .- -... .-. --- .- -..

...--
-- .- -.- .. -. --. / -- . -. - --- .-. .. -. --. / .-- . -... / .- .--. .--. ... / ..-. --- .-. / .-.. --- .-. -.- --- -- / .- .-.. .. -- ...

....-
-- .- -.- .. -. --. / -- --- .-. ... . / - .-. .- -. ... .-.. .- - --- .-.

.....
-- .- -.- .. -. --. / --.- ..- . .-. -.-- / -... ..- .. .-.. -.. . .-. / ..- ... .. -. --. / .--. .... .--.

-....
.--. .-.. .- -. - . -.. / --- -. / - .... . / - --- .--. / --- ..-. / - .- .-.. .- --. .- / -... --- -.. .- ... / -- --- ..- -. - .- .. -.

--...
.--. .-.. .- -. - . -.. / --- -. / - .... . / - --- .--. / --- ..-. / ... .-.. .- -- . - / -- --- ..- -. - .- .. -.

---..
.--. .-.. .- -. - . -.. / --- -. / - .... . / - --- .--. / --- ..-. / ... . -- . .-. ..- / -- --- ..- -. - .- .. -.

----.
-... . .-. .- - / -... .- -.. .- -. / -.- ..- .-. .- -. --. / -.. .- .-. .. / --... ----- -.- --.

.---- -----
.. ... - .. --.- .- -- .- .... / .. -. / --- -. . / -.. .- -.-- / --- -. . / .--- ..- --..

.---- .----
-- . -- --- .-. .. --.. . -.. / .--- ..- --.. / ..--- ----. -....- ...-- ----- / -.-. --- -- .--. .-.. . - . / .-- .. - .... / - .- ..-. ... .. .-.

.---- ..---
.. ..-. / .--. --- ... ... .. -... .-.. . / --..-- / .. / .-- .- -. - / - --- / --. . - / -- .- .-. .-. .. . -..